PENANAMAN NILAI KEJUJURAN MELALUI DOLANAN CUBLAK-CUBLAK SUWENG PADA ANAK SEKOLAH DASAR


Di era globalisasi saat ini, berbagai macam tekanan budaya dari luar mengancam terdegradasinya nilai-nilai kearifan lokal. Pada akibatnya nilai-nilai tersebut tidak jarang menimbulkan disintergrasi bahkan anomie sosial di masyarakat. Menurut Sunarso, dkk (2008), Globalisasi adalah suatu proses dibentuknya suatu tatanan, aturan, dan sistem yang berlaku bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Artinya sudah tidak lagi batas-batas dan sekat-sekat yang menghalangi proses globalisasi guna membentuk masyarakat global. Hilangnya budaya, aturan, nilai dan ide yang bersifat lokal karena dianggap sebuah rantai penghalang bagi terbentuknya masyarakat global. Globalisasi bukan hanya menggerus bentuk budaya lokal melainkan dapat memudarkan nilai-nilai dari sebuah budaya bangsa, seperti nilai kesopanan dan kejujuran. Hampir setiap hari masyarakat Indonesia disuguhi dengan hegemoni budaya asing melalui berbagai jenis media, mulai dari media cetak sampai dengan media elektronik dan digital. Hal ini sangat berbahaya bagi perkembangan watak masyarakat Indonesia. Terutama budaya asing yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat Indonesia. Dengan masuknya budaya asing ini, maka nilai-nilai budaya seperti nilai kejujuran rentan akan degradasi. Kondisi demikian diakibatkan karena masyarakat Indonesia jauh dengan budaya sendiri yang sebenarnya sarat akan nilai-nilai etis dan santun. Tidak dapat dipungkiri, akhir-akhir ini begitu banyak kasus korupsi yang mendera Indonesia. Seperti Kasus Century, Cek Pelawat, Wisma Atlet dan lain-lain membuat KPK semakin gerah dan semakin menumpuknya tugas yang harus diemban. Kasus korupsi bagaikan peribahasa mati satu tumbuh seribu, kasus yang lama belum terselsaikan kasus baru pun ikut bermunculan. Wajar saja apabila Transparency International kembali meluncurkan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index/CPI) tahun 2011. Dalam survei yang dilakukan terhadap 183 negara di dunia tersebut, Indonesia menempati skor CPI sebesar 3,0, naik 0,2 dibanding tahun sebelumnya sebesar 2,8 (Kompas, 1 Desember 2011). Permasalahan yang berkaitan tentang kejujuran bukan hanya terjadi di tingkat pejabat publik akan tetapi di sekolah-sekolah pun telah ada beberapa tindak-tanduk ketidakjujuran antara lain yang terjadi pada saat ujian nasional. Hampir setiap saat terlaksananya ujian nasional beberapa media massa memberitakan tentang adanya kecurangan saat ujian berlasung. Hal ini menyiratkan bahwa ada masalah yang serius berkenaan dengan aspek moralitas bangsa. Jika hal ini dibiarkan maka bangsa ini akan mengalami degradasi moral yang cukup terbilang parah dan akan berdampak pada aspek kehidupan. Oleh karena itu, perlu adanya penggairahan kembali sebuah budaya lokal yang sarat akan nilai-nilai kejujuran yang dapat ditanamkan pada anak usia sekolah dasar. Sangat baik apabila nilai-nilai kejujuran ditanamkan sejak anak usia sekolah dasar karena diusia inilah seorang anak jika dibekali dengan sebuah nilai-nilai positif maka akan berbuah manis di masa depannya.

Nilai Kejujuran Yang Terkandung Dalam Dolanan Cublak-Cublak Suweng

Dalam permainan cublak-cublak suweng, terdapat nilai-nilai kejujuran yang secara tidak sadar terkandung didalamnya. Nilai kejujuran tersebut adalah dimana saat pemain dadi (pemain yang jadi) menebak posisi jatuhnya uwer  di beberapa tangan pemain mentas, maka pemain mentas atau pemain yang memegang uwer atau tidak, harus berterus terang entah itu memegang atau tidak. Pemain mentas yang memegang uwer dan tertebak oleh pemain dadi maka ia harus menyatakan bahwa uwer ada di tangannya tidak boleh berbohong. Bukan hanya itu, dalam permainan ini pun terdapat peraturan yang telah disepakati bersama maka para pemain harus tunduk pada kesepakatan tersebut dan tidak boleh bermain curang. Secara tidak langsung peraturan dalam permainan ini mengikat anak-anak untuk bersikap jujur, sportif, dan patuh. Bagi anak yang bermain tidak jujur, melanggar aturan dan curang maka teman-temannya akan memperolok atau meledek anak tersebut sehingga timbul rasa malu. Dapat kita ketahui dalam permainan ini, anak-anak diajarkan secara empiris yakni jika anak bermain curang, tidak jujur dan tidak patuh maka ia tidak punya teman bahkan temannya dapat membencinya. Oleh karena itu, permainan ini dapat mengajarkan anak untuk takut jika berlaku tidak jujur. Perilaku curang yang dilakukan oleh salah satu anak dapat mempengaruhi kelancaran dan ketertiban permainan, jika hal demikian terjadi maka jalannya permainan menjadi tidak harmonis. Biasanya jika hal demikian terjadi maka anggota pemain yang lain tidak tinggal diam. Bahkan terkadang anak yang curang dapat dikenakan sangsi berdasarkan kesepakatan yang ada.Karakter jujur dapat menumbuhkan karakter sportif pada diri anak, misalnya saat pemain dadi menebak uwer yang ada dalam genggaman pemain mentas maka pemain mentas yang membawa uwer harus mengakui jika tebakannya tepat. Kemudian pemain mentas harus bersikap sportif dan berlapang dada untuk menjadi pemain dadi. Terlihat bahwa dalam permainan cublak-cublak suweng, terdapat nilai-nilai kejujuran yang jika ditanamkan secara berkelanjutan maka akan menumbuhkan sikap-sikap atau nilai-nilai positif lainnya. Permainan cublak-cublak suweng ini, membiasakan anak untuk bersikap jujur, fair play dan patuh terhadap aturan. Menanamkan rasa takut dan malu untuk tidak berbuat jujur dan sportif sehingga nilai-nilai kejujuran tertanam secara kuat pada diri anak.

Penanaman Nilai Kejujuran Melalui Dolanan Cublak-Cublak Suweng

  • Pengintegrasian Mata Pelajaran di Sekolah

Dalam pendidikan di sekolah sebenarnya telah banyak mata pelajaran yang memuat materi yang berkenaan dengan nilai-nilai kejujuran, seperti mata pelajaran pendidikan kewarganeraan. Akan tetapi hasil dari proses pembelajaran tersebut belum memuaskan. Terkadang materi hanya disampaikan secara abstrak sehingga anak usia sekolah dasar sulit untuk memahami secara mendalam dan mengaplikasikannya di kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu, untuk memudahkan anak usia sekolah dasar dalam memahami nilai-nilai kejujuran maka alternatifnya materi disampaikan harus menyesuaikan dengan dunianya. Dunia anak sangat sarat dengan permainan. Tak ada hari tanpa bermain. Bermain merupakan cara yang paling baik bagi anak usia sekolah dasar untuk mengembangkan semua kemampuannya. Melalui bermain anak memperoleh dan memproses informasi belajar hal-hal baru dan melatih melalui ketrampilan yang ada. Pada saat anak bermain, anak akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga untuk menuju proses kedewasaannya kelak. Bermain di sesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, dimulai dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih besar) ke belajar sambil bermain (unsur belajar lebih besar). Permainan untuk anak usia sekolah dasar ini adalah permainan yang dapat merangsang kreativitas dan menyenangkan bagi anak (dalam Rachma Hasibuan, 2010). Permainan tradisional yakni salah satunya adalah Dolanan Cublak-Cublak Suweng sekiranya dapat dijadikan media untuk memudahkan anak sekolah dasar memahami nilai-nilai kejujuran. Merujuk pada Teori perkembangan Piaget, bahwa anak usia sekolah dasar masuk dalam kategori tahap perkembangan oprasional kongkret, dimana anak hanya bisa memahami sesuatu yang bersifat kongkret. Oleh karena itu, materi yang akan disampaikan harus dapat memberikan pengalaman kongkret pada anak sehingga anak-anak dapat benar-benar memahami materi yang disampaikan. Dalam hal penanaman nilai kejujuran dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran yang ada di sekolah sehingga anak dapat memperoleh pembelajaran yang bermakna dan dapat menerjemahkan nilai-nilai kejujuran yang terdapat dalam permainan dengan bantuan penjelasan dari guru. Dengan pengintegrasian antara mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan dolanan Cublak-Cublak Suweng inilah mempermudah para guru dalam menyampaikan nilai-nilai kejujuran yang terbilang abstrak pada siswanya. Pendidikan Kewarganegaraan memuat nilai-nilai kejujuran secara teoritis sedangkan dolanan Cublak-Cublak Suweng memuat nilai-nilai kejujuran secara empiris dan praktis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: