STRATEGI PEMBELAJARAN


BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Barangkali apa yang menyebabkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan ini? Lihatlah proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid baru sampai pada taraf memberi bekal pengetahuan dan keterampilan sebatas sekedar tahu saja. Belum sampai kepada meletakan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanusiaan, serta penguasaan bekal hidup yang praktis. Dalam sistem pengajaran kita lihat hubungan guru dan murid ibarat hubungan cerek dan cangkir. Yang satu cuma sebatas memberi dan yang lain sekedar menerima saja.

Atau mungkin karena sistem pendidikan yang diterapkan oleh guru kepada murid bersifat mengulang-ulang dan tidak ada, atau kurang kreasi dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajarnya. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada guru-guru yang mana kalau mengajar menggunakan buku dan catatan yang sama sepanjang tahun. Ada pula guru karena kurang menguasai bahan kemudian mengambil strategi mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatatkan melulu. Atau menghafalkan buku catatan agar besok dapat disajikan ke hadapan murid di dalam kelas. Murid sendiri dapat mengatakan bahwa guru yang demikian ilmunya cuma tua satu malam dari murid. Dan inilah kenyataan yang membuat integrasi guru-murid tetap berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas sedangkan murid asyik melucu atau ngobrol di belakang.

Tampak taraf pengajaran kita untuk menyerap ilmu masih sekedar menyodorkan tugas¬-tugas hafalan untuk diuji. Sistem komunikasi dalam kelas cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap yes-man kepada guru. Mengkritik guru atau beradu argumen seolah dipandang tabu. Mungkin selalu dibelenggu ketakutan karena berdampak pada ancaman pada nilai rapor. Belajar dengan cara menghafal sungguh mematikan kreatif berfikir dan menunjukkan bahwa guru-guru masih menerapkan pengajaran sistem kuno.

Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah. Di antaranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter, yaitu bersifat menguasai. Guru menganggap bahwa dirinyalah paling benar. Yang mengharuskan setiap murid menerima apa yang dikatakan. Seorang murid yang kritis tergolong pintar mencoba memberi usul atau kritik konstruktif kepada seorang guru bidang studi. Membuat, guru menjadi merah muka dan bukti merasa gembira. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka mati. Dia melakukan ini entah karena rasa dendam karena merasa kelintasan akibat ilmunya minus atau semata-mata memperturutkan egois. Berbicara mengenai metoda pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode pende¬katan yaitu konvensional, prog¬resif dan metode liberal. Seko¬lah-sekolah kita amat mengenal metode konvensional karena metode itu melekat terus. Sikap otoriter terlihat jelas dalam metode ini.

Beginilah suasana kelas atau sekolah dengan metode kuno atau sederhana. Kelas dengan jumlah murid yang masih ramai, dan tampak lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Seolah-olah ruang kelaslah yang menjadi wilayah belajar murid, meskipun teori diatas kertas sungguh bagus. Dalam proses belajar mengajar siswa tampak bersikap pasif. Mereka hanya menerima ilmu saja dan dalam memahami pelajaran cenderung untuk selalu menghafal buku catatan. Interaksi guru-murid lebih diwarnai oleh rasa takut, ini menandakan fikiran masih terbelenggu. Dalam penguasaan bidang ilmu seolah-olah guru serba tahu secara mutlak. Ceramah merupakan metode yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dan inilah penyebab suasana kelas dan suasana belajar menjadi serba membosankan. Hampir setiap hari banyak murid yang memboloskan diri. Maka tentu tidak berlaku kalimat yang berbunyi “kelasku adalah istanaku” tetapi yang terjadi hanyalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.

Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya manusia yang berkualitas pula. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang berkualitas. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja.

Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.

Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah..

  1. RUMUSAN MASALAH

  1. Apa pengertian strategi pembelajaran itu?

  2. Apa saja jenis-jenis strategi pembelajaran yang ada?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN STRATEGI PEMBELAJARAN

Strategi Pembelajaran adalah cara pendekatan guru yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar dan untuk menentukan kegiatan di mana guru dan pelajar akan terlibat selama pelajaran. Sementara metode tertentu sering dikaitkan dengan strategi tertentu, beberapa metode dapat oleh ditemukan dalam berbagai strategi.

Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu di perhatikan oleh seorang instruktur, guru, widyaiswara dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada 3 jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni: (a) strategi pengorganisasian pembelajaran, (b) strategi penyampaian pembelajaran, dan (c) strategi pengelolaan pembelajaran.

Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J. R. David, 1976). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertenu. Dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran.

Tujuan Pengajaran menurut Mager adalah menitik beratkan pada perilaku siswa atau perbuatan (performance) sebagai suatu jenis out put yang terdapat pada siswa dan teramati serta menunjukkan bahwa siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan belajar. Tugas utama pengajar adalah mendidik dan membimbing siswa untuk belajar dan mengembangkan dirinya.

  1. JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN
  1. Strategi Demonstrasi

Guru menghabiskan banyak waktu di kelas untuk menjelaskan atau menunjukkan sesuatu kepada seluruh siswa, kelompok kecil, atau individu. Bahan sumber siswa biasanya tidak memberikan penjelasan konsep yang luas, dan siswa sering perlu demonstrasi atau percobaan untuk memahami suatu prosedur.

Banyak siswa yang belajar melalui pengamatan orang lain, seperti; Demonstrasi memberikan hubungan antara “tahu tentang” dan “bisa lakukan.” Penelitian mengungkapkan bahwa demonstrasi yang paling efektif ketika mereka akurat, ketika peserta didik mampu melihat dengan jelas dan mengerti apa yang terjadi, dan ketika penjelasan singkat dan diskusi terjadi selama demonstrasi (Arena, 1988).

  1. Teori & Praktek

Apa Teori & Praktek itu?

Strategi pembelajaran teori & praktek sangat dekat hubungannya bagi semua pendidik. Hal itu “meningkatkan perolehan pengetahuan atau keterampilan melalui latihan berulang-ulang.” Strategi tersebut merujuk kepada tugas-tugas kecil seperti menghafal ejaan atau kosa kata, atau berlatih fakta aritmatika dan juga dapat ditemukan dalam tugas-tugas belajar yang lebih canggih atau permainan pendidikan jasmani dan olahraga. Teori dan praktek, seperti menghafal, melibatkan pengulangan keterampilan tertentu, seperti penambahan dan pengurangan, atau ejaan. Untuk menjadi bermakna bagi peserta didik, keterampilan dibangun melalui latihan-latihan dan harus menjadi dasar agar belajar lebih bermakna.

Apa Tujuannya?

Teori dan Praktek adalah kegiatan untuk membantu peserta didik dalam menguasai materi dengan langkah mereka sendiri. Latihan biasanya dilakukan secara berulang dan digunakan sebagai alat penguat. Cara efektif menggunakan cara percobaan dan praktek tergantung pada pengakuan dari jenis keterampilan yang sedang dikembangkan, dan dalam penggunaan strategi yang tepat bertujuan untuk mengembangkan kompetensi ini. Ada juga tempat untuk latihan dan praktek terutama untuk para pelajar awal atau bagi siswa yang mengalami masalah belajar. Penggunaannya, juga harus disimpan dalam situasi dimana guru yakin bahwa itu adalah bentuk yang paling sesuai dalam instruksi.

Bagaimana cara melakukannya?

Percobaan dan praktek menggunakan perangkat lunak yang terstruktur dalam penguatan konsep yang dipelajari sebelumnya. Mereka didasarkan pada interaksi tanya jawab dan harus memberikan si pelajar umpan balik yang sesuai. Percobaan dan praktek merupakan paket yang dapat digunakan dalam permainan untuk meningkatkan motivasi. Guru yang menggunakan komputer untuk memberikan teori dan praktek dalam keterampilan dasar mempromosikan belajar karena siswa meningkatkan perolehan teori dan praktek dalam keterampilan dasar. Dalam sebuah paket materi dari jenis ini, siswa dapat memilih tingkat kesulitan yang tepat di mana pertanyaan tentang materi konten spesifik ditetapkan. Dalam kebanyakan kasus siswa termotivasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan cepat dan akurat oleh masuknya skenario game, serta grafis warna-warni dan animasi. Materi yang baik dan software praktik agar siswa dapat memberikan umpan balik, dalam menjelaskan cara untuk mendapatkan jawaban yang benar, dan berisi sistem manajemen untuk melacak kemajuan siswa.

Bagaimana cara menyesuaikannya?

Telah ada gerakan yang jauh dari teori yang berbasis kertas dan sistem latihan untuk sistem berbasis komputer. Teori dan praktek dengan materi yang bersangkutan dapat meningkatkan pengalaman sehari-hari kepada siswa. Mengingat sifatnya, kepribadian interaktif dengan materi yang menggunakan komputer dapat memberikan pengalaman tersendiri untuk menyediakan ingatan dalam jangka panjang. Dalam program praktek akan efektif bila digunakan dalam skala kecil, karena pengalaman pembelajaran praktek dapat melengkapi setiap pelajaran dengan efektif. Materi tertentu memungkinkan siswa untuk memperkuat keterampilan khusus dalam bidang subjek tertentu. Meskipun tidak mudah terintegrasi di kurikulum, teori dan praktek bisa bermanfaat. Biasanya berguna dalam salah satu dari dua jenis format. Yang pertama format berfokus pada area subyek yang spesifik. Daerah yang paling umum adalah membaca dan berhitung. Tipe kedua berupaya untuk meningkatkan keterampilan di beberapa wilayah kurikulum. Seperti dengan semua jenis materi, guru perlu menentukan apakah teknologi adalah cara terbaik untuk beriteraksi dengan subyek yang ditangani.

Contoh

Permainan untuk anak terpusat dalam suatu kegiatan yang menerapkan strategi pemecahan masalah serta kesempatan untuk melatih kemampuan dasar.

Keterampilan Dasar Praktik Kartu dapat dirancang untuk digunakan dalam berbagai format. Mereka dapat digunakan dengan papan permainan, dalam format loto atau sebagai flashcards.

  1. Diskusi

Apakah Diskusi itu ?

Diskusi adalah suatu cara menyampaikan dengan bicara dari sebuah topik, atau pengalaman. Semua pelajar sering membutuhkan kesempatan untuk menghasilkan dan berbagi pertanyaan mereka dan ide-ide dalam pengaturan kelas kecil dan utuh (kelompok). Guru yang mendorong dan menerima pertanyaan-pertanyaan siswa dan komentar tanpa penghakiman dan mengklarifikasi pemahaman yang gagsan atau istilahnya sulit untuk merangsang pertukaran ide.

Apakah Tujuannya?

* untuk membantu siswa memahami suatu pengetahuan
* untuk merangsang pikiran, keingin-tahuan, penjelasan, tanggapan dan ingatan
* untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperjelas dan memperluas ide-ide mereka dan orang lain
* untuk meningkatkan interaksi kelompok dan percakapan yang positif
* untuk menunjukkan tata cara bertanya atau interupsi secara benar

Bagaimana saya melakukannya?

* Buka-tutup Diskusi:
o Buka-tutup dimulai dengan pertanyaan tulus (tidak ada jawaban yang benar atau ringkas) yang diajukan oleh guru atau siswa.
o Semua pendengardiusahakan memperhatikan pertanyaan itu.
o Memasukkan jeda setelah respon siswa untuk mendorong respon diperpanjang atau berbeda.
o Memperjelas siswa dengan pengulangan bila diperlukan.
o Membuat siswa-siswa berdialog selama diskusi bila memungkinkan.
o  Menghormati pertanyaan dan tanggapan mereka.
o Model peran pendengar menjadi sensitif, kolaborator, mediator, pembisik, pembelajaran mitra dan kuesioner.

* Diskusi dengan panduan:
o Diskusi dengan panduan dimulai dengan guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang kepada suatu topik, tema atau isu tertentu.
o Melalui diskusi, siswa diharapkan mencapai pemahaman yang lebih dalam dari topik.
o Setelah guru mengarahkan gagasan, siswa harus didorong untuk memfasilitasi diskusi dengan cara terus merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan topik diskusi.

* Membicarakan Topik dengan Melingkar atau Diskusi:
o Mebicarakan Topik dengan Melingkar atau diskusi dapat digunakan oleh siswa untuk merefleksikan pengalaman atau mendiskusikan perasaan.
o Para siswa berkumpul dengan melingkar.
o Peserta membahas suatu topik dan memiliki kesempatan untuk berbicara sementara peserta lain mendengarkan.
o Setelah pembicara menyampaikan komentar atau pendapatnya, pendengar diberikan kesempatan untuk berbicara atau bertanya.
o Diskusi melingkar dapat digunakan dengan kelompok besar atau kelompok kecil.
o Peserta lingkaran diskusi berkumpul untuk mebentuk lingkaran.

Bagaimana bisa menyesuaikan diskusi?

* Diskusi harus menjadi bagian dari setiap mata pelajaran sekolah.
* Diskusi dapat dimasukkan ke dalam strategi sebagai berikut:
o Penelitian, Kegiatan belajar mengajar dan keorganisasian.

  1. Pembelajaran Kooperatif

Apakah Pembelajaran Kooperatif itu?

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang secara simultan ditujukan untuk keterampilan akademik dan sosial belajar siswa. Ini adalah strategi pembelajaran yang telah diteliti sangat sukses dijalankan di dalam kelas.

Apa tujuannya?

Ada kebutuhan disetiap tingkatan yang saling berketergantungan di semua lapisan masyarakat kita. Menyediakan alat untuk siswa secara efektif untuk bekerja dalam lingkungan kolaboratif agar menjadi prioritas. Pembelajaran Kooperatif adalah salah satu cara untuk menfasilitasi siswanya dengan kerangka kerja yang baik dalam kondisi belajar. Siswa belajar untuk memenuhi tujuan keterampilan akademik dan sosial yang jelas. Ini adalah pendekatan tim dimana keberhasilan kelompok tergantung pada setiap orangnya.

Bagaimana cara melakukannya?

Lima Elemen Dasar Pembelajaran Kooperatif
1. Positif Interdependensi
2. Interaksi face to face
3. Akuntabilitas Individu
4. Keterampilan Sosial
5. Pengolahan kelompok

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sangat penting untuk semua metode interaktif. Mahasiswa adalah kelompok kecil,yang biasanya terdiri dari 2-6 anggota. Pengelompokkan heterogen berdasarkan karakteristik siswa. Anggota kelompok berbagi peran dan saling ketergantungan satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan kelompok belajar. Tugas akademik merupakan hal yang sangat penting, siswa juga mempelajari pentingnya menjaga kesehatan kelompok dan harmoni, dan menghormati pandangan individu.

Bagaimana saya bisa menyesuaikan dengan strategi belajar kerjasama?

Kerjasama belajar dapat terjadi dalam berbagai keadaan. Sebagai contoh, brainstorming dan kelompok tutorial, ketika bekerja sebagai strategi pembelajaran, memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan sikap pembelajaran kooperatif.

Penilaian dan Pertimbangan Evaluasi

Mengamati kelompok pembelajaran kooperatif dalam tindakan memungkinkan untuk secara efektif menilai karya siswa dan pemahaman. kelompok-kelompok pembelajaran kooperatif juga menawarkan kesempatan yang unik untuk umpan balik dari teman sebaya dan refleksi diri.

KESIMPULAN

Strategi pembelajaran dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itustrategi pembelajaran juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Dari banyaknya macam strategi pembelajaran yang ada, dapat dismpulkan bahwa kegiatan mengajar adalah suatu seni. Hal tersebut (seni mengajar) perlu dipahami oleh seorang guru/pengajar yang profesional agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

http://olc.spsd.sk.ca/de/pd/instr/index.html tanggal 4 Maret 2011 waktu 3:32 PM

http://edu-articles.com/category/artikel-lepas/ tanggal 7 Maret 2001 waktu 4:03 PM

http://www.nwlink.com/~donclark/index.html tanggal 7 Maret 2011 waktu 4:26 PM

http://www.au.af.mil/au/awc/awcgate/doe/isd.html tanggal 7 Maret 2011 waktu 4:34 PM

Smalldino,S.E., Lowther, D.L. & Russell, J.D. (2008). Instructional Technology and Media for Learning. New Jersey: Pearson Preritice Hall

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: