Pendidikan Sebagai Human Capital


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Di era globalisasi dan persaingan yang semakin meluas dalam berbagai bentuk berupa arus barang dan jasa tenaga kerja dan arus modal pada tahun 2003 (AFTA) dan tahun 2020 (APEC), yang tidak mungkin terlepas dari persyaratan tersedianya sumberdaya manusia atau tenaga kerja sesuai kebutuhan industri saat ini, memiliki kompetensi dan fleksibel dalam menghadap perubahan dan tantangan di masa mendatang,maka dari itu Indonesia mau tidak mau harus terlibat di dalamnya.

Karena semua negara tidak lagi mengenal batas, baik batas tatanan perekonomian maupun batas tatanan informasi. Pada situasi demikian setiap orang sebagai komponen suatu bangsa akan menghadapi persaingan ketat untuk memperebutkan peluang pasar yang dibuka lebar-lebar. Dampak dari perubahan tatanan tersebut di atas sudah mulai terasa hampir disemua sektor. Beberapa jenjang jabatan yang mempersyaratkan kompetensi tertentu misalnya saja tenaga kesehatan ternyata sudah banyak terisi oleh orang-orang asing. Apabila hal ini tidak diantisipasi sejak dini, bukan tidak mungkin kita akan menjadi orang asing di negara sendiri.

Dewasa ini dunia pendidikan di Indonesia baik pada masa sekarang maupun yang akan datang masih menghadapi tantangan yang semakin berat serta kompleks. Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara lain baik dalam produk, pelayanan, maupun dalam penyiapan sumber daya manusia. Ada beberapa contoh sebagai tantangan Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi sumber daya manusia yaitu dengan kondisi nyata bahwa posisi Indonesia dalam peringkat daya saing bangsa di dunia internasional adalah nomor 102 tahun 2003 sedangkan tahun 2007 nomor 111 dengan skor 0.697 dari 106 negara Asia Afrika yang disurvei Human Development Indkes (HDI) (nationmaster.com).

      Dampak akibat krisis ekonomi yang amat dirasakan adalah tingginya angka tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi : SD ke SLTP 19,3% ; SLTP ke SLTA 34,4%, SLTA ke PT 53,12%. Sementara itu daya tampung ke Perguruan Tinggi hanya 11,4 %, artinya jumlah yang memasuki pasar kerja tanpa memiliki kompetensi mencapai 88,6%. Kondisi peringkat di atas, menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi sekarang ini dalam pengelolaan SDM Indonesia. Sangat dibutuhkan usaha keras dunia pendidikan agar tenaga kerja yang mengacu ke tenaga pasar global mampu bersaing pada persaingan internasional.

Tenaga pasar global dan keharusan mempertahankan kedudukan bisnis Indonesia dalam percaturan perekonomian dunia hanya dapat dijawab dengan pengembangan SDM yang mampu menghasilkan kualitas produksi barang dan jasa yang berstandar internasional dengan tetap mempertahankan kerakteristik nasional dan menghasilkan barang dan jasa dengan harga yang bersaing melalui proses operasi/produksi yang efisien lalu dapat menampilkan citra sebagai pemasok yang handal dan terpercaya.

  1. B.     Rumusan Masalah

 

  • Apa peranan pendidikan sebagai Human Capital ?
  • Mengapa pendidikan sebagai Human Capital ?
  • Bagaimana perkembangan pendidikan sebagai Human Capital ?
  • Bagaimana pengelolaan pendidikan sebagai Human Capital di indonesia ?

                                                      

  1. C.    Tujuan Penulisan

 

Dalam penulisan makalah ini bertujuan agar kita dapat mengetahui peranan pendidikan sebagai Human Capital dan mengerti alasan pendidikan sebagai Human Capital serta mengkaji perkembangan,pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan sebagai Human Capital baik di Indonesia maupun di luar negeri

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.   Peranan Pendidikan sebagai Human Capital

 

Peranan pendidikan dalam kehidupan adalah sangat penting karena di era globalisasi sekarang ini dunia kerja menuntut sumber daya manusia yang bermutu dan berkualitas oleh karena itu dunia pendidikan mau tidak mau harus dapat menciptakan wadah baik dalam sarana dan prasarana maupun dalam bentuk pelatihan-pelatihan tenaga kerja yang terampil.

Human capital bukanlah  memposisikan manusia sebagai modal layaknya mesin, sehingga seolah-olah manusia sama dengan mesin, sebagaimana teori human capital terdahulu. Namun setelah teori ini semakin meluas, maka human capital justru bisa membantu pengambil keputusan untuk memfokuskan pembangunan manusia dengan menitikberatkan pada investasi pendidikan (termasuk pelatihan).

Telah banyak sumber dan pakar ekonomi pendidikan mengatakan bahwa pendidikan memberi kontribusi terhadap pembangunan ekonomi. Berbagai kajian akadernis dan kajian empiris telah membuktikan hal ini. Pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas (merniliki pengetahuan dan keterampilan serta· menguasai teknologi) tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.

 

Salah satu ciri Negara maju adalah tingginya tingkat pendidikan dan penguasaan teknologi oleh karena itu pendidikan sangat di tekankan untuk meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusia seperti adanya pelatihan skill,ketrampilan dan pengetahuan tentang dunia usaha agar menciptakan sumber daya manusia yang berdaya saing,kompeten,kreatif,berwawasan luas dan mempunyai integritas tinggi yang dibutuhkan oleh berbagai sektor usaha baik sektor industry dan lainnya.

 

B. Alasan Pendidikan sebagai Human Capital

 

          Alasan mengapa pendidikan sebagai Human Capital adalah karena Pendidikan merupakan investasi yang paling penting dalam modal manusia untuk menjawab tantangan global pada saat ini.

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sekolah tinggi dan pendidikan tinggi di Amerika Serikat sangat meningkatkan pendapatan seseorang, bahkan setelah dikurangi keluar biaya langsung dan tidak langsung sekolah, dan bahkan setelah disesuaikan untuk fakta bahwa orang dengan pendidikan lebih cenderung memiliki IQ yang lebih tinggi dan lebih baik berpendidikan.

Bukti serupa yang mencakup bertahun-tahun sekarang tersedia dari lebih dari seratus negara dengan budaya yang berbeda dan sistem ekonomi.

Pendapatan dari lebih banyak orang berpendidikan hampir selalu jauh di atas rata-rata, walaupun keuntungan umumnya lebih besar di negara-negara berkembang.

Tentu saja, pendidikan formal bukan satu-satunya cara untuk berinvestasi dalam modal manusia. Pekerja juga belajar dan dilatih di luar sekolah, terutama pada pekerjaan. Bahkan lulusan perguruan tinggi tidak sepenuhnya siap menghadapi pasar tenaga kerja ketika mereka meninggalkan sekolah dan harus dipasang ke pekerjaan mereka melalui program pelatihan formal dan informal.

Oleh karena itu keahlian dan kecakapan seseorang dalam menghadapi persaingan tenaga kerja sangat dipengahuri oleh seberapa tinggi dan luasnya pendidikan yang dimiliki masing-masing individu.

Maka dari itu diperlukannya usaha-usaha dan program-program untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan bermutu tinggi untuk menghadapi persaingan internasional karena dunia kerja sangat menunutut untuk memperoleh sumber daya manusia yang bervarietas tinggi.

C.Perkembangan Pendidikan sebagai Human Capital

Selama akhir abad ke-20 ke-19 dan awal, modal manusia di Amerika Serikat menjadi jauh lebih berharga sebagai kebutuhan tenaga kerja trampil datang dengan kemajuan teknologi baru ditemukan.

Abad ke-20 sering dipuja sebagai “abad modal manusia” oleh para sarjana di amerika saerikat, selama periode ini gerakan massa baru terhadap pendidikan menengah membuka jalan bagi transisi ke pendidikan massa yang lebih tinggi.

Teknik-teknik baru dan proses pendidikan lebih lanjut dari norma sekolah dasar, yang dengan demikian menyebabkan terciptanya pendidikan formal lebih di seluruh bangsa.

Kemajuan ini menghasilkan kebutuhan tenaga kerja trampil lebih yang menyebabkan upah pekerjaan yang diperlukan untuk pendidikan lebih jauh menyimpang dari upah orang yang dibutuhkan kurang.

Perbedaan ini menciptakan insentif bagi individu untuk menunda memasuki pasar tenaga kerja untuk mendapatkan pendidikan yang lebih.

Negara-negara di kawasan Arab dihadapkan dengan tantangan untuk mengembangkan keterampilan populasi mereka dan pengetahuan teknis, atau modal manusia, untuk bersaing dalam perekonomian global abad ke-21.

Keadaan telah menggambarkan pendidikan dan inisiatif pasar tenaga kerja dilaksanakan atau sedang berlangsung di empat negara di kawasan Arab – Lebanon, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) – untuk mengatasi masalah sumber daya manusia mereka hadapi setiap saat mereka mempersiapkan diri mereka negara untuk tempat dalam ekonomi global abad ke-21..

Tiga dari negara-negara ini – Oman, Qatar, dan UEA – berada di Teluk Arab, yang keempat, Lebanon, adalah di Levant.

Bersama-sama, mereka menyoroti kesamaan dan perbedaan dari tantangan yang dihadapi oleh negara-negara di kawasan ini dan tanggapan terhadap tantangan tersebut.

Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan utama: Apa tantangan sumber daya manusia masing-masing Negara? Apa pendidikan, modal manusia, dan reformasi pasar tenaga kerja baru-baru ini telah dilaksanakan atau berada di bawah cara untuk mengatasi tantangan-tantangan ini? Apa mekanisme dan informasi yang digunakan untuk menilai apakah tujuan reformasi akan bertemu mereka, dan tidak ada bukti keberhasilan? Jawaban yang dicari melalui analisis literatur yang relevan, populasi paling terbaru dan data tenaga kerja dari sumber-sumber internasional dan dalam negeri, dan serangkaian wawancara elit pada tahun 2006 dengan pejabat pemerintah dan individu dalam organisasi swasta di empat Negara.

Para penulis menemukan bahwa sementara negara-negara studi telah melembagakan reformasi untuk pendidikan dan sistem pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan penduduk, dan telah membuat perubahan pada pasar tenaga kerja dan ekonomi bertujuan untuk memfasilitasi penggunaan sumber daya manusia di berbagai sektor perekonomian, putuskan tetap antara melaksanakan reformasi dan mengevaluasi mereka untuk memastikan apakah mereka memiliki efek yang dimaksudkan

Dalam banyak kasus, reformasi baru saja mendapatkan berjalan, sehingga mungkin terlalu dini untuk mengukur dampaknya..

Dalam kasus lain, bagaimanapun kurangnya penilaian sistematis berasal dari kesenjangan dalam data yang dibutuhkan untuk melacak dampak perubahan kebijakan. Jika evaluasi kebijakan dibuat integral reformasi, negara-negara di dunia Arab akan memiliki informasi yang mereka butuhkan untuk membuat investasi terbaik modal manusia dalam dekade-dekade yang akan datang.

  1. D.   Pengelolaan Pendidikan sebagai Human Capital di Indonesia

 

Pemerintah indonesia (dengan kesepakatan antara Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Departemen Pendidikan Nasional, sebagaimana yang dirilis oleh Bapekki Depkeu melalui harian Bisnis Indonesia tanggal 20 Maret 2007), menunjukkan komitmennya atas reformasi sistem pendidikan di negeri ini. Komitmen ini diterapkan pada tahun ini dengan mengubah fokus pendirian lembaga Pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan yang bersifat kejuruan akan diperbanyak jumlahnya. Idealnya, menurut Bapekki jumlah lembaga pendidikan kejuruan mencapai 70% dari lembaga pendidikan yang ada, sedangkan sisanya 30% lagi diisi oleh lembaga pendidikan umum.

Komposisi ini telah banyak diterapkan oleh negara-negara di kawasan Asia dan Eropa, dan telah terbukti mampu menekan laju pengangguran di negara-negara tersebut. Dengan besamya komposisi lembaga pendidikan kejuruan, akan tercipta link and match antara dunia pendidikan dan lulusannya dengan kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha. Dari paparan teori diatas terkait kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang disampaikan oleh beberapa ahli ekonomi pendidikan adalah pendidikan menghasilkan peningkatan ketrampilan dan kemampuan dalam produksi. Jika ketrampilan dan kemampuan untuk memproduksi meningkat maka pertumbuhan ekonomi pun akan meningkat.

Salah satunya adalah SMK, karena SMK merupakan lembaga pendidikan yang mempersiapkan lulusannya untuk memiliki pengetahuan, keahlian, dan ketrampilan yang akan menjadi bekal setelah menyelesaikan pendidikan. Sehingga lulusan SMK memiliki bekal sebagai job creator maupun sebagai worker, yang berarti siap memasuki pasar kerja. Pendidikan Menengah Kejuruan mengantisipasi kondisi ini melalui penerapan sistem pendidikan dan pelatihan Kejuruan berdasarkan kompetensi (CBT).

Dengan pemikiran ini, pembahasan tentang peran pendidikan SMK terhadap pertumbuhan perekonomian akan melibatkan pembahasan SMK sebagai lembaga yang menyiapkan specific human capital yang berkualitas. Dengan terciptanya SDM/lulusan yang berkualitas yaitu  lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja sehingga siap memasuki pasar kerja. Keterserapan para lulusan yang merupakan output SMK akan meningkatkan produktivitas yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui terciptanya nilai tambah terhadap barang dan jasa yang terdapat dalam dijelaskan dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam menyekolahkan anak-anaknya untuk menempuh studi di jenjang SMK. Semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat, semakin tinggi pula kualitas SDM yang dapat digunakan dalam pengolahan sumber daya yang tersedia dalam perekonomian.

BAB III

PENUTUP

A.   Kesimpulan

 

Jadi perlu kita sadari bahwa pentingnya peranan pendidikan sebagai Human Capital karena modal manusia untuk tetap hidup bukan hanya ditentukan oleh modal yang berupa materi saja akan tetapi pendidikan dibutuhkan untuk jembatan menuju manusia yang berwawasan luas.berdedikasi tinggi dan mempunyai skill yang mumpuni untuk menghadapi tantangan global saat ini.

Dunia usaha pada masa sekarang ini telah banyak menuntut manusia yang mempunyai skill yang spesifik untuk turut andil pada peningkatan produksi,oleh karena itu pendidikan dituntut untuk dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas,berdaya saing serta menpunyai keahlian dan ketrampilan.

Dalam hal ini Pendidikan bukan hanya Pendidikan formal seperti SD,SLTP.SMA dan Perguruan Tinggi akan tetapi termasuk Pendidikan latihan seperti Training Centre,kursus,Balai latihan khusus dll.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: