DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR SISWA WAJIB DILAKUKAN OLEH PENDIDIK


Seorang Pendidik dalam proses pembelajaran sangat berperan penting dalam pengembangan potensi peserta didik, pendidik bukan hanya bertugas menyampaikan bahan atau materi pelajaran akan tetapi pendidik harus dapat mengetahui kemampuan pada masing-masing siswa secara individual karena pendidik lah yang bertanggung jawab atas perkembangan peserta didik baik secara mental, intelektual dan moral. Pendidik dituntut untuk dapat mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami oleh masing-masing siswa dan faktor penyebab kesulitan belajar tersebut. Bukan hanya itu, pendidik juga harus dapat mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah kesulitan belajar pada siswa agar siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

Kegiatan memahami kesulitan belajar siswa dikenal dengan istilah diagnosis kesulitan belajar, menurut Harriman dalam bukunya Handbook of psychological term, diagnosis adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi diagnosis disini merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang dipandang tidak beres atau bermasalah. Sedangkan dalam dunia kedokteran, diagnosis adalah kegiatan untuk menentukan jenis penyakit dengan meneliti gejalanya. Webster juga mengemukakan pendapatnya tentang diagnosis yaitu proses  menentukan hakikat kelainan atau ketidakmampuan dengan ujian, dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta yang dijumpai, yang selanjutnya untuk menentukan permasalahan yang dihadapi. ( sugihartono dkk : 2007 : 149 ).

Menurut Sugihartono dkk dalam bukunya Psikologi Pendidikan (2007) menyatakan bahwa Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau di bawah norma yang telah ditetapkan.  Blassic dan jones mengatakan bahwa kesulitan belajar itu menunjukan adanya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang dicapai oleh peserta didik (prestasi aktual). Selanjutnya blassic dan jones juga mengatakan bahwa peserta didik yang mengalami kesulitan belajar adalah peserta didik yang memiliki intelejensi normal, tetapi menunjukan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar bila prestasi belajar yang dicapai tidak sesuai dengan kapasitas intelejensinya. Dengan demikian kesulitan belajar tidak hanya dialami oleh peserta didik yang intelejensinya rendah.

Adapun faktor- faktor yang menyebabkan kesulitan belajar pada peserta didik antara lain faktor fisiologi, psikologi, instrumen dan lingkungan belajar. Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah siswa yang malas atau bodoh. Dalam teori Humanistik, proses belajar dianggap berhasil jika si pebelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Menurut Arthur Combs (1912-1999) menyatakan bahwa proses belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak memaksakan meteri yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa bahkan mereka merasa sebenarnya tidak ada alasan penting untuk mempelajarinya. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan nenberikan kepuasan baginya.

Untuk itu, guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia presepsinya sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah presepsi siswa itu sendiri.Banyak pandidik yang acuh tak acuh pada kondisi belajar siswanya, mereka tidak mau mencari penyebab kesulitan belajar yang dialami oleh siswanya. Terkadang pendidik hanya menuntut keberhasilan siswa dalam belajar, jika terjadi kegagalan dan kesalahan pada saat siswa belajar, pendidik lebih memilih memberinya hukuman baik secara langsung atau tidak langsung seperti menambah tugas belajarnya dengan harapan siswa akan berubah tanpa adanya diagnose yang dilakukan pendidik untuk mengetahui mengapa siswanya gagal dan salah dalam belajar. Menurut Skinner hukuman sangat berpengaruh negatif terhadap perkembangan belajar siswa yaitu dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama, hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain ( meskipun salah dan buruk ) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya. ( C. Asri Budiningsih : 2004 : 27 )

Hukuman bukan solusi terbaik untuk mangatasi kesulitan belajar siswa.Oleh karena itu, diperlukannya pendidik yang dapat menjadi mediator dan fasilitator. Menurut hasil penelitian dari Aspy dan Roebuck (1975) yang beracuan pada pendapat Rogers tentang guru yang fasilitatif, Aspy dan Roebuck menyatakan bahwa guru yang fasilitatif adalah :

  • Merespon perasaan siswa
  • Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
  • Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
  • Menghargai siswa
  • Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
  • Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan Untuk memantapkan kebutuhan segera dari siswa)
  •  Tersenyum pada siswa

Dari penelitian tersebut diketahui guru yang fasilitatif  mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika  yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin.

Dalam mengatasi kesulitan belajar siswa, guru harus jeli dalam mengidentifikasi atau mendiagnosa jenis kesulitan belajar masing-masing individu siswa, Menurut Warkitri dkk (1990), ada beberapa permasalahan belajar yaitu :

  • Kekacauan Belajar (Learning Disorder) yaitu suatu keadaan dimana proses belajar anak terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Potensi dasar anak tidak diragukan tetapi belajar anak terhambat oleh reaksi-reaksi yang bertentangan, sehingga anak tidak dapat menguasai bahan yang dipelajari dengan baik. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
  • Ketidakmamuan Belajar (Learning Disability) yaitu ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
  • Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
  • Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
  • Slow Learner  atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

Dalam film Taare Zameen Par yaitu film yang menceritakan seseorang anak yang kesulitan dalam belajar, yaitu kesulitan dalam menulis dan membaca atau biasa disebut Dislexia. Akan tetapi anak tersebut mempunyai intelejensi diatas rata-rata, tingkat imajinasinya sangat tingi yaitu dengan kemampuan melukisnya.Kesulitan yang dialami yaitu sulit dalam menerjemahkan kata-kata atau lambang, kesulitan dalam memahami intruksi dan terasa sulit dalam mngenali huruf seperti salah dalam penempatan posisi huruf atau sering terbalik dalam menulis, diperkirakan terdapat masalah dalam saraf motoriknya sehingga prestasi belajarnya sangat rendah.Kesulitan belajar yang dialami oleh anak tersebut adalah Kekacauan Belajar (Learning Disorder) dan Under Achiever.

 Menurut Fontana (1981) ada dua faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa antara lain :

  • Faktor Internal ( dari dalam diri ) yaitu Kemampuan intelektual, afeksi seperti perasaan dan percaya diri, motivasi, kematangan untuk belajar, usia, jenis kelamin, kebiasaan belajar, kemampuan mengingat, dan kemampuan penginderaan seperti melihat, mendengarkan dan merasakan.
  • Faktor Eksternal ( dari luar ) yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi proses pembelajaran seperti guru, kualitas pembelajaran, instrument atau fasilitas pembelajaran baik berupa Hardware maupun Software serta lingkungan, baik lingkungan sosial dan alam.

Terlihat jelas dalam film tersebut penyebab dari kesulitan belajar yang dialami oleh anak tersebut yaitu faktor internal yang berkaitan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan yang terdapat pada struktur kognitifnya tidak sesuai dengan apa yang ia pelajari di sekolah sehingga ia mengalami kekacauan dalam belajar. Menurut Teori belajar kognitif, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran siswa.Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya.

Carl Rogers dalam bukunya Freedom To Learn menyatakan prinsip-prinsip dasar Humanistik yang berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki siswa dengan apa yang mereka pelajari di sekolah yaitu ;

  • Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya
  • Belajar yang signifikan terjadi bila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri
  • Belajar menyangkut perubahan di dalam presepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung ditolaknya.

Bukan hanya itu, faktor eksternal pun sangat berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa. Dalam film tersebut dapat kita lihat bahwa faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi anak tersebut kesulitan belajar adalah Guru dan Lingkungan sosial, guru sudah terlebih dahulu memberikan label idiot atau bodoh pada anak tersebut, begitu juga lingkungan sosialnya seperti teman-teman sepermainan dan keluarga. Menurut penemuan Jack Canfield (dalam DePorter, 1990) menunjukan bahwa orang tua atau guru yang lebih tertarik memperhatikan kekurangan-kekurangan anak dan cenderung mengabaikan kelebihan atau perilaku positif anak akan mengakibatkan anak kurang mengenal, menghargai maupun mengembangkan sikap dan perilaku yang positif, serta cenderung lebih peka dalam sikap dan perilaku negatif.

Salah satu solusi untuk mengatasi kesulitan belajar siswa adalah dengan Pengajaran Remidial, menurut Warkiti dkk (1990) Tujuan dari Pengajaran Remidial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar agar mencapai prestasi yang diharapkan melalui proses  penyembuhan dalam aspek kepribadian atau dalam proses belajar mengajar. Adapun metode-metode yang terdapat dalam Pengajaran Remidial, salah satu metode yang digunakan oleh pengajar dalam film tersebut adalah Metode Pengajaran Individual yaitu proses yang hanya melibatkan seorang guru dan seorang peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Metode ini sangat intensif karena pelayanan yang diberikan dengan menyesuaikan kesulitan belajar dan kemampuan siswa.Dalam hal ini, guru dituntut memiliki kemampuan membimbing, sabar, telaten, sikap menerima, memahami keadaan peserta didik, bertanggung jawab dan mempunyai wawasan luas yang berkaitan dengan permasalahan belajar peserta didik. Disamping itu guru harus memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana hubungan yang baik dengan paserta didik dalam proses pembelajaran remedial. ( sugihartono : 2007 : 181 ).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: