Taksonomi Variabel Pembelajaran


Taksonomi variabel pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kondisi pembelajaran adalah faktor-faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil  pembelajaran. Kondisi pembelajaran meliputi; 1) Tujuan dan karakteristik bidang studi/disiplin ilmu, 2) Kendala dan karakteristik bidang studi/disiplin ilmu, 3) Karakteristik peserta belajar (Mahasiswa). Tujuan pembelajaran adalah pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa. Karakteristik bidang studi/disiplin ilmu adalah aspek-aspek suatu bidang studi/disiplin ilmu yang dapat memberikan landasan yang berguna sekali dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran. Kendala adalah keterbatasan sumber-sumber, seperti waktu, media, personalia, dan dana. Sedangkan karakteristik mahasiswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan mahasiswa, seperti bakat, motivasi, kemampuan awal atau hasil belajar yang telah dimilikinya, harapan, dll.

Metode Pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Metode pembelajaran meliputi; 1) Strategi pengorganisasian isi/materi (Organizational strategy), 2) Strategi penyampaian (Delivery strategy), 3) Strategi pengelolaan (Management strategy).      Strategi pengorganisasian isi/materi (Organizational strategy) adalah metode untuk mengorganisasi isi bidang studi/disiplin ilmu yang telah dipilih dalam pembelajaran. “Mengorganisasi” mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lainnya yang setingkat dengan itu. Ada 2 strategi pengorganisasian materi yaitu strategi makro dan strategi mikro. Strategi penyampaian (Delivery strategy) yaitu metode untuk menyampaikan isi pembelajaran kepada mahasiswa dan/atau untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari mahasiswa. Strategi pengelolaan (Management strategy) adalah metode untuk menata interaksi antara mahasiswa dengan variabel metode pembelajaran lainnya (variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran).

Hasil pembelajaran adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran di bawah kondisi yang berbeda. Hasil pembelajaran meliputi; 1) keefektifan (effectiveness), 2) efisiensi (efficiency), dan 3) daya tarik (appeal). Keefektifan (effectiveness) pembelajaran biasanya diukur dengan tingkat pencapaian belajar mahasiswa. Efisiensi (efficiency) pembelajaran biasanya diukur dari rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai mahasiswa dan/atau jumlah biaya yang digunakan. Daya tarik (appeal) pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan mahasiswa untuk tetap terus belajar.

Berdasarkan variabel-variabel pembelajaran di atas dikembangkan alur kegiatan perancangan dan pengembangan pembelajaran. Perencanaan dan pengembangan pembelajaran merupakan langkah-langkah penting yang harus dilakukan agar terjadi aktivitas belajar yang optimal dalam diri mahasiswa untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Penataan langkah-langkah tersebut berupa urutan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan, dengan memperhatikan variabel-variabel penting pembelajaran di atas.

Perencanaan dan Pengembangan Pembelajaran

Berpijak pada klasifikasi variabel-variabel pembelajaran di atas, dikembangkanlah langkah-langkah perencanaan dan pengembangan pembelajaran sebagai berikut:

  1. Analisis tujuan dan karakteristik bidang studi (matakuliah).
  2. Analisis sumber belajar (kendala)
  3. Analisis karakteristik mahasiswa
  4. Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran
  5. Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran
  6. Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran
  7. Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran
  8. Mengembangkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.

1. Analisis tujuan dan karakteristik bidang studi.

Analisis tujuan dan karakteristik isi bidang studi perlu dilakukan pada tahap awal kegiatan perencanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran atau kapabilitas belajar apa yang diharapkan dikuasai oleh mahasiswa. Gagne (1975) mengelompokkan tujuan pembelajaran atau kapabilitas belajar ke dalam 5 kelompok, yaitu: informasi verbal, ketrampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan psikomotorik. Bloom (1979) mengelompokkan tujuan pembelajaran ke dalam 3 domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Analisis karakteristik isi bidang studi dilakukan untuk mengetahui tipe isi bidang studi apa yang akan dipelajari mahasiswa apakah berupa fakta, konsep, prosedur, ataukah prinsip.

2. Analisis sumber belajar (kendala)

Sumber-sumber belajar apa yang tersedia dan dapat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran serta dapat mendukung proses pembelajaran.

3. Analisis karakteristik mahasiswa

Menganalisis karakteristik mahasiswa untuk mengetahui ciri-ciri perseorangan mahasiswa. Ciri-ciri yang dimaksud termasuk diantaranya adalah kematangan tingkat berpikir, motivasi, kemampuan awal, bakat, gaya belajar, serta kebutuhan/harapannya. Karakteristik mahasiswa harus dijadikan pijakan dalam merancang pembelajaran.

4. Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran

Langkah menetapkan tujuan dan isi pembelajaran memuat rumusan tujuan khusus pembelajaran atau kompetensi apa yang diharapkan dikuasai oleh mahasiswa, serta tipe atau struktur isi pelajaran yang bagaimana yang dipelajari untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan tersebut.

5. Menetapkan strategi pengorganisasian isi/materi pembelajaran

Strategi pengorganisasian isi/materi pembelajaran amat dipengaruhi oleh tipe isi dan struktur bidang studi (matakuliah) yang dipelajari. Pengorganisasian materi pembelajaran dapat dilakukan di tingkat makro (kurikulum/silabi) maupun tingkat mikro (Satuan tatap muka/ SAP).

6. Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran.

Langkah ini didasarkan pada hasil analisis sumber belajar dan kendala. Daftar sumber belajar yang tersedia dijadikan dasar dalam memilih dan menetapkan strategi penyampaian pembelajaran.

7. Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran

Langkah ini amat tergantung pada hasil analisis karakteristik mahasiswa. Karakteristik mahasiswa dijadikan dasar untuk memilih dan menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran seperti pengelolaan motivasional, kontrol belajar, dll.

8. Mengembangkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.

Pengukuran hasil pembelajaran untuk mengetahui tingkat keefektifan, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui pengamatan, tes, hasil karya mahasiswa, dan lainnya.

Dari langkah-langkah di atas langkah menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran merupakan langkah penting yang sering kali diabaikan dalam perencanaan pembelajaran.

Model desain pembelajaran lain yang banyak digunakan adalah model Dick dan Carey. Ada sepuluh langkah dalam merancang dan mengembangkan pembelajaran menurut Dick dan Carey, yaitu;

  1. Analisis kebutuhan untuk mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum.
  2. Melakukan analisis pembelajaran
  3. Menganalisis karakteristik peserta belajar dan konteks
  4. Merumuskn tujuan-tujuan khusus
  5. Pengembangan alat penilaian
  6. Mengembangkan strategi pembelajaran
  7. Mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran
  8. Merancang dan menyusun evaluasi formatif
  9. Merancang dan menyusun evaluasi sumatif
  10. Revisi pembelajaran

1.Analisis kebutuhan pembelajaran

Kebutuhan adalah kesenjangan antara kondisi sekarang dengan kondisi yang diinginkan. Langkah ini merupakan need assessment, yaitu menganalisis kebutuhan apa yang harus dikuasai mahasiswa sebagai kompetensi yang dibutuhkan dalam  kehidupannya. Kompetensi ini berorientasi pada hasil dan implikasi yang diharapkan muncul pada diri mahasiswa melalui serangkaian pengalaman belajar. Berdasarkan kebutuhan akan penguasaan kompetensi ini, diidentifikasikan tujuan-tujuan umum pembelajaran yang harus dikuasai mahasiswa. Tujuan umum adalah pernyataan umum tentang hasil belajar yang harus dikuasai mahasiswa, yang dikembangkan mengacu kepada kebutuhan atau kompetesi yang telah ditetapkan.

2. Melakukan analisis pembelajaran

Analisis pembelajaran merupakan upaya bagaimana suatu kompetensi dapat dicapai melalui pengaturan secara sistematis langkah-langkah pembelajaran baik secara prosedural, hirarkhial, maupun kombinasi keduanya. Langkah-langkah tersebut sering digambarkan sebagai diagram atau alur atau skema yang tersusun berdasarkan tahap-tahap rangkaian pengalaman belajar yang harus dilalui mahasiswa, untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

3. Menganalisis karakteristik peserta belajar/mahasiswa dan konteks

Paradigma baru dalam pembelajaran menempatkan kebutuhan mahasiswa sebagai hal yang utama. Ini berarti bahwa upaya apapun dalam peristiwa pembelajaran harus berorientasi dan berfokus serta berpijak pada kondisi dan kebutuhan mahasiswa. Karakteristik mahasiswa sebagai variabel kondisi pembelajaran didefinisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas perseorangan peserta belajar. Aspek-aspek ini dapat berupa kecerdasan, motivai belajar, gaya kognitif, gaya belajar, dan yang terpenting adalah kemampuan awal atau hasil belajar yang telah dimilikinya. Kemampuan awal sebagai kemampuan prasyarat sangat diperlukan sebagai dasar pijakan dalam memilih bahan dan strategi pembelajaran. Karakteristik mahasiswa ini perlu diperhatikan, karena akan berpengaruh terhadap proses dan hasil belajarnya.

4. Merumuskan tujuan-tujuan khusus

Langkah berikutnya adalah merumuskan tujuan-tujuan khusus pembelajaran. Tujuan khusus adalah pernyataan-pernyataaan khusus tentang hasil pembelajaran yang diinginkan. Tujuan ini merupakan penjabaran dari tujuan-tujuan umum yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan karakteristik mahasiswa serta konteks yang ada. Tujuan khusus ini akan bermanfaat untuk mempreskripsikan strategi pembelajaran di tingkat mikro. Tujuan khusus ini juga yang akan memberi arah isi atau materi yang akan dipelajari, sekaligus cara mengorganisasikan materi. Untuk merumuskan tujuan khusus pembelajaran, biasanya mencantumkan komponen-komponen utama seperti; audience (mahasiswa), behavior (perilaku/kemampuan), conditions (kondisi/konteks), dan degree ( kriteria). Untuk lebih mudah mengingat biasanya digunakan mnemonik ABCD.

5. Pengembangan alat penilaian

Penilaian merupakan suatu upaya untuk mengetahui perubahan kemampuan atau perilaku yang terjadi pada diri mahasiswa baik secara kuantitatif maupun kualitatif, setelah melalui proses belajar. Untuk mengetahui hasil belajar secara menyeluruh, maka penilaian harus dilakukan secara komprehensif, artinya;

  1. Isi penilaian mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
  2. Semua isi pelajaran yang telah dipelajari harus terungkap dalam penilaian.
  3. Alat penilaian lengkap, tidak hanya terbatas pada satu macam alat saja.

Selain alat penilaian harus komprehensif, juga harus memenuhi prinsip-prinsip;

  1. Harus sesuai untuk mengukur tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.
  2. Harus dapat mengukur penguasaan materi-materi yang mewakili hasil belajar.
  3. Alat evaluasi direncanakan dengan matang, dengan kisi-kisi (blueprint).
  4. Untuk memperbaiki kualitas belajar mahasiswa.
  5. Memiliki daya kepercayaan tinggi (ketepatan hasil).
  6. Memiliki daya pembeda dan derajat kesukaran yang baik.

6. Mengembangkan strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran dikembangkan berdasarkan student oriented. Strategi pembelajaran menurut Reigeluth (1998) dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu; strategi pengorganisasian isi pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Strategi apapun yang dikembangkan harus sesuai dengan kemampuan dan tujuan apa yang harus dikuasai mahasiswa. Kaitannya dengan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, strategi pembelajaran diutamakan pada ketrampilan memecahkan masalah. Pengetahuan prosedural sebagai proses kognitif dalam mengidentifikasi, mendefinisikan, mengaplikasikan, menginduksi dan membuat deduksi serta mengevaluasi, merupakan kemampuan-kemampuan yang perlu dikuasai dalam memecahkan masalah. Proses berpikir kreatif yang melibatkan aktivitas mental, emosional dan fisik, perlu  dikembangkan. Pendekatan-pendekatan konstruktivistik, kreatif-ptoduktif, contextual teaching and learning, problem based learning, dan juga cooperative dan colaborative learning, merupakan konsep-konsep penting dalam mengembangkan strategi pembelajaran.

7. Mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran

Pemilihan materi atau bahan pembelajaran mengacu pada tujuan-tujuan khusus pembelajaran. Langkah ini berhubungan dengan tindakan-tindakan untuk memilih isi, menata isi, mengurutkan, membuat rangkuman, diagram, format, gambar, atau yang setingkat dengan itu. Bahan-bahan pembelajaran dapat digali dari berbagai sumber, seperti dengan cara mengumpulkan isu-isu  yang sedang berkembang, hasil-hasil penelitian, literatur, pendapat para ahli, kebijakan pemerintah, serta hal-hal yang ada dalam kehidupan masyarakat. Diperlukan upaya dan kreatifitas dosen untuk menggali kemungkinan-kemungkinan, memperjelas dan memperluas penguasaan materi mahasiswa dengan berbagai sumber belajar. Atau, belajar berbasis aneka sumber.

8. Merancang dan menyusun evaluasi formatif

Evaluasi selalu berhubungan dengan upaya pengambilan keputusan, karena hasil evaluasi merupakan landasan untuk menilai suatu program pembelajaran dan memutuskan apakah program dapat diteruskan atau masih perlu diperbaiki lagi. Untuk keperluan itu dibutuhkan berbagai macam data atau informasi. Evaluasi yang dimaksudkan sebagai proses (evaluasi formatif) bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan-tujuan program pembelajaran.

Pendekatan yang dilakukan meliputi

  1. Merumuskan tujuan umum sesuai analisis kebutuhan, serta materi pelajaran.
  2. Menjabarkan tujuan umum ke dalam tujuan-tujuan khusus yang dapat diukur atau diamati.
  3. Menentukan kondisi di mana mahasiswa dapat melakukan unjuk kerja yang diharapkan
  4. Menyusun instrumen yang memenuhi persyaratan obyektivitas, validitas, dan reliabilitas.
  5. Penerapan  instrumen sebelum, selama dan sesudah program dilaksanakan.
  6. Analisis hasil evaluasi untuk menentukan keberlanjutan pelaksanaan program.

9. Merancang dan menyusun evaluasi sumatif

Evaluasi sumatif sebagai evaluasi hasil belajar adalah penting dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan mahasiswa dalam belajar. Kegiatan evaluasi ini perlu dilakukan secara kontinu untuk mengetahui proses berkembangan atau kemajuan belajar mahasiswa dari waktu ke waktu. Hasil evaluasi harus dapat memberikan informasi sejauh mana mahasiswa telah atau belum dapat menguasai kompetensi dan tujuan-tujuan belajar yang diharapkan. Selain untuk mengetahui penguasaan belajar mahasiswa, hasil evaluasi ini juga dapat digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan proses seleksi dan penempatan, perbaikan sistem pembelajaran, pengembangan kurikulum, bahkan untuk mengetahui akuntabilitas lembaga pendidikan.

10. Revisi pembelajaran

Berdasarkan hasil evaluasi, perbaikan program dapat dilakukan secara sistematis untuk meningkatkan hasil pembelajaran yang terkait dengan keefektifan, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran.

Hasil analisis dan pengembangan seluruh langkah di atas akan menjadi bahan untuk ditata/disusun ke dalam Satuan Pembelajaran atau Satuan Acara Perkuliahan (SAP) yang siap  dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Persoalannya adalah,  masih sesuaikah prosedur pengembangan pembelajaran di atas jika perpijak pada paradigma pembelajaran kognitif-konstruktivistik?

Seperti telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, masih banyak permasalahan belajar dan pembelajaran yang dihadapi oleh bangsa ini yang perlu diatasi. Di sisi lain, berbagai pembaharuan di bidang pendidikan dan pembelajaran juga telah dilaksanakan, seperti perubahan kurikulum, pengembangan berbagai strategi pembelajaran, peningkatan sarana dan media pembelajaran, perbaikan sistem evaluasi, dan sebagainya. Namun, sejauh mana keberhasilannya? Hingga kini kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran masih dirasakan belum meningkat. Hal ini mendorong para ahli pembelajaran untuk merubah paradigma yang selama ini digunakan untuk beralih ke paradigma baru yang berpijak pada pandangan kognitif-konstruktivistik. Sebab, ada keyakinan bahwa komponen-komponen pendidikan dan/atau pembelajaran apapun yang diubah atau ditingkatkan jika paradigma yang melandasinya tidak berubah, maka hasilnya akan sama saja yaitu kurang efektif.

Pandangan atau paradigma yang selama ini dianut adalah pandangan behavioristik. Pandangan ini sudah sekian lama dianut di negeri ini, sehingga sudah terpatri di dalam sistem pembelajaran di Indonesia. Banyak pendidik merasa enggan merubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun, sebab apa yang dilakukannya sudah dianggap baik. Belajar menurut pandangan behavioristik adalah  menambah pengetahuan dan/atau merubah perilaku anak. Anak harus dapat mengungkapkan kembali informasi atau materi pelajaran yang telah dipelajarinya di sekolah. Pandangan demikian dianggap sebagai satu-satunya yang benar. Paradigma ini tampak pada desain-desain pembelajaran seperti model PPSI, Banathy, Kemp, Dick dan Carey. Model-model ini oleh Merrill, Li, dan Jones (1990) disebut sebagai First Generation Instructional Design (ID1).

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berdasarkan teori-teori interaktif, dibutuhkan Second Generation Instructional Design (ID1) (Sri Anitah, 2003). Paradigma konstruktivistik lebih memperhatikan bagaimana manusia mengkonstruk atau membentuk pengetahuannya lewat pengalaman-pengalamannya, sehingga terjadi perubahan struktur kognitif serta keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa sekitarnya. Struktur kognitif yang dibentuk adalah unik untuk setiap individu. Implikasinya dalam desain pembelajaran adalah, karena siswa membentuk pengertian dan sudut pandangnya sendiri maka isi pelajaran tidak dapat dispesifikasi. Domain-domain pengetahuan tak dapat dipisahkan dari dunia nyata dan informasi dari  berbagai sumber diperlukan untuk menganalisis suatu isu.

Tujuan pembelajaran aliran behavioristik lebih menekankan pada hasil belajar yang diharapkan, sedangkan pandangan konstruktivistik tujuan pembelajarannya menekankan pada penciptaan pemahaman yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata. Oleh sebab itu, penekanan pada ketrampilan berpikir kritis, berpikir devergen dengan memanfaatkan informasi-informasi pada situasi baru sangat diperlukan. Diskusi dan refkeksi dengan melibatkan pengalaman konkrit dapat menjadikan belajar lebih bermakna. Dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kerja kelompok dan memainkan peran yang bervariasi akan dapat menghasilkan belajar lebih kreatif dan produktif. Sedangkan evaluasi pembelajaran untuk melihat apakah siswa mampu menyusun pengetahuan secara bermakna dan menggunakan cara berfikir devergen untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, evaluasi merupakan bagian utuh dari kegiatan belajar yang tidak terpisahkan dengan proses pembelajaran.

 

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: